May sudah lupa sejak kapan mulanya jadi tempat konsul teman terkait permasalahan kulit, terutama area wajah dan lebih tepatnya si Jerawat. Apabila May sekarang mau buat cerpen, tokoh utamanya adalah si Jerawat. Muncul sebuah pertanyaan, apa sih yang kalian pikirin pertama kali saat ketemu dia?
Insecure….
Malu….
Sakit….
Pusing….
Stress….
Etc.
YA, SEMUANYA.
May mau nulis cara mengatasi jerawat ya? Not guys.
Lebih dari itu, sebuah sejarah panjang tentang jerawat wkwkwk gakdeng.
May kali ini akan cerita atau lebih tepatnya flashback saat masa sulit, dimana Jerawat menjadi teman baik May. FYI tulisan ini akan mengandung unsur diri May sendiri selaku penulis dan pemberitahuan awal, bahwa gak akan ada testimonya ya. Bukan iklan soalnya.๐
Kisah ini akan dimulai pada zaman saat May masih unyu, baru lulus esemah dan masih berwajah mulus. Selama sekolah menengah, wajah ini gak perna bersentuhan dengan yang namanya jerawat sampai lulus dan mengalami satu tahun penuh air mata, tapi ini bukanlah ceritanya. Pada satu tahun itu May harus merasakan pengangguran yang beneran pengangguran. Akhirnya, usaha dan proses dilengkapi dengan doa menghantarkan ke Universitas yang diinginkan dengan Program Studi yang juga memang disukai, meski belum suka profesi akhirnya. Pada saat itu. Semua berbalik, Alhamdulillah sampai sekarang May menikmati dan menerima semuanya, perlahan lebih mensyukuri yang dimiliki.
Tahun pertama di masa kuliah tidak seperti Mahasiswa baru umumnya yang memang polos tanpa lipstick, dsb. May sudah mengenal itu dan malah kebalikannya, semakin tua semester semakin hilang hiasan di wajah. Pertengahan semester awal adalah waktu bermulanya wajah ini diselimuti si Jerawat yang menyiksa, sakit luar biasa. Meradang.
Awal tumbuh di kening berupa brutusan yang emang lama-lama membesar. Perlahan tapi pasti muncul di pipi kiri dan kanan, sesekali di bagian hidung dan dagu. Jangan bayangkan jerawat kecil yang kalau pecah, mengering dan hilang. Not Sahabat. Wajah ini beneran diselimuti oleh batu kerikil kecil-kecil yang kalau kita pegang kayak struktur tanah kering yang retak-retak gak rata. Itu beneran like a dream, Cuma tujuh hari alias satu pekan semua bertransformasi menjadi tekstur bulan.
Berangsur-angsur kepercayaan diri menurun.
May selalu pakai masker kemana-mana(kayak new normal guys), jadi seorang yang pendiem padahal aslinya kayak gak pernah habis baterai. Pengobatan alami, sampai kimia. Murah sampai dengan lebih gak murah. Luar sampai dalam. Ujung sampai pangkal dunia. Bener-bener kayak udah buntu jalan menuju kemulusan kembali.
Pada saat itu di pikiran May “Dasar Kamu, udah pendek, kecil, jelek lagi! Untung gak item (meski sekarang lebih hitam dari dulu).๐” Jujur saat ini May menyadari betapa menghinanya diri sendiri itu atau sadar diri itu lebih sakit, karena kita tahu apa yang jadi kekurangan dan gak tau bagaimana mengatasinya. Apa yang May sebut di atas itu memang dirasain dan ‘Betapa gak adilnya dunia’ otak sampai di titik itu berpikirnya. Dasar May, padahal baru ujian kecil. Kufur baget sama nikmat yang udah dikasih. Dikelilingi sama temen-temen, kakak dan mbak yang selalu ngajak kepada hal kebaikan, dikasih waktu yang habis sebab kebermanfaatan. Nikmat yang langkah banget dan baru disadarin saat orang-orang tersebut perlahan pergi, waktu seolah sibuk dengan hal gak berfaedah, ketika itu baru berpikir untuk bersyukur.
Setelah lama berkutak dengan sesal dan sedih itu, May menyadari semua yang terjadi pasti punya hikmahnya sendiri. Kesadaran itu bahkan muncul saat putus asa itu udah di atas kepala.
Perlahan buka masker yang biasa nutupin jerawat di pipi. Hasilnya cahaya matahari bisa ngebantu ngeringin jerawat dan ngerasain sendiri kalau jerawat lagi meradang lebih cepat prosesnya saat disinari matahari.
Terus apa sih inti tulisan ini? Gak ada wkwkwk
Gak kok, ada. May gak tau bisa buat kalian ngeh apa gak. ๐
Selama kurang lebih satu tahun May mengalami fase Jerawat, banyak empati dan simpati dari temen-temen, sahabat. Ada yang berkata ‘sabar’. Ada yang rekomendasi tentang obat jerawat. Ada juga yang nyebelin…. ⬇⬇⬇
“ihh kok bisa jerawatan banyak, cepet banget”
“udah diobatin belum, pati asal-asalan obatnya.”
“Jarang cuci muka kali?”
“asal-asal si pilih make up”
Bunuh orang boleh tak?
Dan, kalian tahu? masiiiiiiiiiiihhhhhhhh banyak penghakiman lainnya. Bagi May kalimat-kalimat itu sebuah penghakiman saat itu, berbeda sekarang terasa biasa aja.
Baperan? Gak gitu. Memang siklusnya, orang yang sedang atau perna mengalami suatu masalah lebih sensitif dengan masalah itu, dibanding yang cuma komentar dengan modal sekadar lihat. Apalagi kalau ditambah, mereka bukan simpati, tetapi cuma pengen kepo. Cepet say bye-bye deh.
May selalu mikir, orang-orang ini hakim duniakah? Not-kan ya?
Ada baiknya kalian yang memang menemukan kesedihan, kemalangan, ketidaksempurnaan temen-temen, keluarga atau orang di sekitar kalian, bisa gak sih gak menghakimi? Kalau gak bisa kasih saran, kasih semangat. Cukup.
Sekadar nanya, boleh aja. Pakai kalimat yang dipilih. Kita gak ada yang tahu malu, sakit, pusing, stress, itu asalnya dari mana, bisa jadi itu dari kata-kata kamu Beb. Hal yang harus selalu kita sadarin, apa yang terasa biasa bagi kita, belum tentu biasa bagi mereka.
Sebenernya hal ini gak cuma buat kasus jerawat yang emang keliatan banget. Lebih kepada semua hal yang menyangkut hati manusia, cobalah buat berpikir ulang. Itu udah bener atau belum kalimatnya?
Endingnya, May sembuh dari jerawat dan hikmahnya lebih memahami dunia yang jadi tempat kaki ini berpijak. Berat? Iya, sangat bahkan, tapi dibanding itu, banyak hal yang jadi pembelajaran dan pendewasaan. Gak hanya sekadar tentang perawatan wajah, tapi perawatan hati yang berpengaruh sama semua hal yang ditemui atau dihadapin.
Rawat hatimu, apabila wajahmu gagal dirawat, hatimu siap menghadapi dan bangkit. Sederhana, tapi itu berat Sahabat.๐
Remember it!
“Kita emang gak bisa membuat hati, sikap, dan perbuatan orang lain selalu baik ke kita. Hal yang harus kita sadarin adalah tentang diri kita sendiri yang bisa mulai buat lebih memilih dan memilah yang baik untuk si A, B, C atau Z sekalipun. Semua berbeda, menyama-nyamakan itu bukan hal baik, apa lagi sama kamu. Iya kamu, yang ‘sempurna’. Satu hal yang harus selalu diigat, TENANG, ADA PEMILIK SKENARIO KEHIDUPAN. Jalanin sebaik-baiknya, terima dengan sebaik-baiknya juga”.
Everything will always okay. Believe it!
Musi Banyuasin, 30 Juli 2020
My May ❤