Kamis, 30 Juli 2020

JE(RAWAT)

           May sudah lupa  sejak kapan mulanya jadi tempat konsul teman terkait permasalahan kulit, terutama area wajah dan lebih tepatnya si Jerawat.  Apabila May sekarang mau buat cerpen, tokoh utamanya adalah si Jerawat. Muncul sebuah pertanyaan, apa sih yang kalian pikirin pertama kali saat ketemu dia? 
Insecure….
Malu….
Sakit….
Pusing….
Stress….
Etc.

YA, SEMUANYA.

May mau nulis cara mengatasi jerawat ya? Not guys.
Lebih dari itu, sebuah sejarah panjang tentang jerawat wkwkwk gakdeng.

May kali ini akan cerita atau lebih tepatnya flashback saat masa sulit, dimana Jerawat menjadi teman baik May. FYI tulisan ini akan mengandung unsur diri May sendiri selaku penulis dan pemberitahuan awal, bahwa gak akan ada testimonya ya. Bukan iklan soalnya.๐Ÿ˜

            Kisah ini akan dimulai pada zaman saat May masih unyu, baru lulus esemah dan masih berwajah mulus. Selama sekolah menengah, wajah ini gak perna bersentuhan dengan yang namanya jerawat sampai lulus dan mengalami satu tahun penuh air mata, tapi ini bukanlah ceritanya. Pada  satu tahun itu May harus merasakan pengangguran yang beneran pengangguran. Akhirnya, usaha dan proses dilengkapi dengan doa menghantarkan ke Universitas yang diinginkan dengan Program Studi yang juga memang disukai, meski belum suka profesi akhirnya. Pada saat itu. Semua berbalik, Alhamdulillah sampai sekarang May menikmati dan menerima semuanya, perlahan lebih mensyukuri yang dimiliki.
Tahun pertama di masa kuliah tidak seperti Mahasiswa baru umumnya yang memang polos tanpa lipstick, dsb. May sudah mengenal itu dan malah kebalikannya, semakin tua semester semakin hilang hiasan di wajah. Pertengahan semester awal adalah waktu bermulanya wajah ini  diselimuti si Jerawat yang menyiksa, sakit luar biasa. Meradang. 

           Awal tumbuh di kening berupa brutusan yang emang lama-lama membesar. Perlahan tapi pasti muncul di pipi kiri dan kanan, sesekali di bagian hidung dan dagu. Jangan bayangkan jerawat kecil yang kalau pecah, mengering dan hilang. Not Sahabat. Wajah ini beneran diselimuti oleh batu kerikil kecil-kecil yang kalau kita pegang kayak  struktur tanah kering yang retak-retak gak rata. Itu beneran like a dream, Cuma tujuh hari alias satu pekan semua bertransformasi menjadi tekstur bulan.
Berangsur-angsur kepercayaan diri menurun. 

       May selalu pakai masker kemana-mana(kayak new normal guys), jadi seorang yang pendiem padahal aslinya kayak gak pernah habis baterai. Pengobatan alami, sampai kimia. Murah sampai dengan  lebih gak murah. Luar sampai dalam. Ujung sampai pangkal dunia. Bener-bener kayak udah buntu jalan menuju kemulusan kembali. 
        Pada saat itu di pikiran May “Dasar Kamu, udah pendek, kecil, jelek lagi! Untung gak item (meski sekarang lebih hitam dari dulu).๐Ÿ™ƒ” Jujur saat ini May menyadari betapa menghinanya diri sendiri itu atau sadar diri itu lebih sakit, karena kita tahu apa yang jadi kekurangan dan gak tau bagaimana mengatasinya. Apa yang May sebut di atas itu memang dirasain dan ‘Betapa gak adilnya dunia’ otak sampai di titik itu berpikirnya. Dasar May, padahal baru ujian kecil. Kufur baget sama nikmat yang udah dikasih. Dikelilingi sama temen-temen, kakak dan mbak yang selalu ngajak kepada hal kebaikan, dikasih waktu yang habis sebab kebermanfaatan. Nikmat yang langkah banget dan baru disadarin saat orang-orang tersebut perlahan pergi, waktu seolah sibuk dengan hal gak berfaedah, ketika itu baru berpikir untuk bersyukur.
              
            Setelah lama berkutak dengan sesal dan sedih itu, May menyadari semua yang terjadi pasti punya hikmahnya sendiri. Kesadaran itu bahkan muncul saat putus asa itu udah di atas kepala.

         Perlahan buka masker yang biasa nutupin jerawat di pipi. Hasilnya cahaya matahari bisa ngebantu ngeringin jerawat dan ngerasain sendiri kalau jerawat lagi meradang lebih cepat prosesnya saat disinari matahari. 

Terus apa sih inti tulisan ini? Gak ada wkwkwk

Gak kok, ada. May gak tau bisa buat kalian ngeh apa gak. ๐Ÿ˜…

          Selama kurang lebih satu tahun May mengalami fase Jerawat,  banyak empati dan simpati dari temen-temen, sahabat. Ada yang berkata ‘sabar’. Ada yang rekomendasi tentang obat jerawat. Ada juga yang nyebelin…. ⬇⬇⬇

ihh kok bisa jerawatan banyak, cepet banget”
“udah diobatin belum, pati asal-asalan obatnya.”
“Jarang cuci muka kali?”
“asal-asal si pilih make up”
Bunuh orang boleh tak? 

Dan, kalian tahu? masiiiiiiiiiiihhhhhhhh banyak penghakiman lainnya. Bagi May kalimat-kalimat itu sebuah penghakiman saat itu, berbeda sekarang terasa biasa aja. 

Baperan? Gak gitu. Memang siklusnya, orang yang sedang atau perna mengalami suatu masalah lebih sensitif dengan masalah itu, dibanding yang cuma komentar dengan modal sekadar lihat. Apalagi kalau ditambah, mereka bukan simpati, tetapi cuma pengen kepo. Cepet say bye-bye deh. 

May selalu mikir, orang-orang ini hakim duniakah? Not-kan ya?

Ada baiknya kalian yang memang menemukan kesedihan, kemalangan, ketidaksempurnaan temen-temen, keluarga atau orang di sekitar kalian, bisa gak sih gak menghakimi? Kalau gak bisa kasih saran, kasih semangat. Cukup. 

         Sekadar nanya, boleh aja. Pakai kalimat yang dipilih. Kita gak ada yang tahu malu, sakit, pusing, stress, itu asalnya dari mana, bisa jadi itu dari kata-kata kamu Beb. Hal yang harus selalu kita sadarin, apa yang terasa biasa bagi kita, belum tentu biasa bagi mereka.

Sebenernya hal ini gak cuma buat kasus jerawat yang emang keliatan banget. Lebih kepada semua hal yang menyangkut hati manusia, cobalah buat berpikir ulang. Itu udah bener atau belum kalimatnya? 

          Endingnya, May sembuh dari jerawat dan hikmahnya lebih memahami dunia yang jadi tempat kaki ini berpijak. Berat? Iya, sangat bahkan, tapi dibanding itu, banyak hal yang jadi pembelajaran dan pendewasaan. Gak hanya sekadar tentang perawatan wajah, tapi perawatan hati yang berpengaruh sama semua hal yang ditemui atau dihadapin.

Rawat hatimu, apabila wajahmu gagal dirawat, hatimu siap menghadapi dan bangkit. Sederhana, tapi itu berat Sahabat.๐Ÿ˜Š

Remember it!
“Kita emang gak bisa membuat hati, sikap, dan perbuatan orang lain selalu baik ke kita. Hal yang harus kita sadarin adalah tentang diri kita sendiri yang bisa mulai buat lebih memilih dan memilah yang baik untuk si A, B, C atau Z sekalipun. Semua berbeda, menyama-nyamakan itu bukan hal baik, apa lagi sama kamu. Iya kamu, yang ‘sempurna’. Satu hal yang harus selalu diigat, TENANG, ADA PEMILIK SKENARIO KEHIDUPAN. Jalanin sebaik-baiknya, terima dengan sebaik-baiknya juga”.

Everything will always okay. Believe it!


Musi Banyuasin, 30 Juli 2020
My May ❤


Senin, 27 Juli 2020

I'M ILFEEL

Setelah sekian lama ruang celoteh ini berdebu, pada akhirnya berbunyi lagi ๐ŸŽŠ๐ŸŽ‰

      Tik…tik katanya, tapi gak bunyi hujan๐Ÿ˜…. Sejak 2013 blog ini May miliki, sudah banyak artikel yang May buat tanpa dibaca orang lain. Tahun 2020, di tengah teman-teman yang mengisi waktu pandemi ini dengan nge-blog, mungkin inilah saatnya memulai kembali. Berjuta kali menetapkan hati untuk berceloteh lagi, akhirnya tepat di hari ini. #autosokpuitis

Taraaa….you have to read to the end sahabat!๐Ÿคฉ

             Kita mulai ya ngedongengnya๐Ÿ˜ Beberapa hari lalu, seorang adik cerita panjang dan sempat mengatakan satu kata yang terdengar tidak asing bagi May sendiri "ilfeel". Ilfeel bisa dikatakan sebuah ungkapan perasaan seseorang yang hilang kepada orang lain dan berganti dengan rasa negatif, biasanya disebabkan  tingkah laku atau lisan orang tersebut di lingkungannya. Perasaan ini terbilang wajar untuk seorang insan yang notabenenya merupakan mahluk sosial yang berinteraksi dengan satu dan yang lainnya, tetapi May mikir apa sih jadinya kalau perasaan ini terlalu berlebihan? Kan semua hal yang berlebihan gak baik. ๐Ÿ˜‰

           May coba survey kecil-kecilan ke beberapa teman dan hasilnya 1:10 dengan poin lebih besar untuk seorang perempuan merasa ilfeel kepada orang lain, dibanding laki-laki. Bisa jadi hal ini terjadi karena faktor perempuan lebih ambil peran dengan perasaan dibandingkan pemikiran, kayak laki-laki. Dari survei itu, May nemuin banyak dampak sama lingkungannya ketika perasaan itu hadir di hati atau pikirannya.

1. Ketidaknyamanan Beraktivitas
      Pada saat ilfeel menjalar ke pikiran (hati), otak membuat respon untuk merasakan ketidaknyaman kepada diri saat berada di sekitar orang yang kita rasa ilfeel. Teman May sampai ada yang bilang “ya gimana gitu, kalau kita udah ilfiil sama orangnya, rasanya perbuatan baiknya berasa angin lalu gitu”.

2. Selisih Paham Dengan yang Bersangkutan
          Rasa ilfeel muncul ketika seorang sangat memperhatikan gerak orang lain hingga melihat keanehan, kejanggalan atau bahkan berlebihannya reaksi seseorang terhadap sesuatu. Poinnya berarti, orang yang ilfeel terhadap orang lain bukan berarti yang di-ilfeel-in melakukan kesalahan, ya gak sih? tetapi perasaan ilfeel menuntun rasa tidak akan sejalan dengan orang lain yang dia rasa ilfeel. Nyambung gak? May muter-muter๐Ÿ˜ต

3. Memunculkan Permusuhan
               Orang yang telah memberi impuls kepada otak tentang rasa ilfeel  dengan otomatis menghindari apapun dan bagaimanapun hal-hal terkait orang tersebut. Dengan kata lain akan meminimkan komunikasi antara keduanya,. Selanjutnya, hal yang terjadi timbul rasa canggung berlebih dan memutuskan silaturahim, hingga hilang tak berbekas. Sakit. ๐Ÿ’”

4. Ghibah Ataupun Fitnah (Intinya Ngomongin Orang)
             Parahnya ini, jika setiap step by step orang sakit ada tahapannya ini tahapan terparah dari ilfeel. Ketika semua teredam dan menemukan kesalahan sang empu yang di-ilfeel-in udahlah otomatis (apalagi cewek) dia akan bercerita ria dengan teman yang satu frekuensi dengannya, berdoa saja si teman tidak bicara sama temannya lagi dan begitu seterusnya. Bisa dosanya gotong royong kan ya๐Ÿคฃ

Setelah dampak-dampak ilfeel dijelasin sedemikian rupa, pertanyaan yang May ingat betul adalah tentang bagaimana agar rasa ilfeel ini gak muncul dengan mudahnya di pikiran kita (tapi bagi May, sebenarnya, itu ilfeel ada di hati, gak di pikiran aja). To the list again yau….

1. Tak Kenal, Maka Tak Sayang
               Kata-kata ini sering banget didenger buat pembukaan moderator atau gak pembawa acara ketika mau kenalan ke penonton (audiens). Biasanya, May gak mau buat perspektif (gitu gak si tulisannya) di awal kenalan atau awal ketemu orang, karena kita gak bisa menilai orang hanya dengan melihat satu atau dua kali yang dia lakuin ataupun tingkahnya. Jangankan yang baru kita temui, teman lama kita aja belum tentu kita kenal dengan sangat-sangat kenal. Maka dari itu, bagi May gak adil buat siapa pun ketika baru mengetahui orang lain, tetapi sudah pandai menilainya. Kan kita bukan juri pencarian bakat ๐Ÿ˜…

2. Gak Ada Andra N The Backbone ‘Sempurna’
            Kalau udah kenal lama, inget ini! Harus dan sangat. Iyalah, manusia mana yang sempurna? Manusia itu tempatnya kekurangan. Entah itu kurang dompet, kurang ajar aja jangan ya hehehe. Hal ini bisa jadi sebuah rujukan, dimana ketika kita kenal sama orang jangan sampai kita berekspektasi lebih kepada orang itu. Nanti kecewa, ilfeel pun terbit. Boleh saja berekspektasi, tetapi bukan berarti harus sempurna tanpa celah dan sesuai keinginan kita. Pun kita juga harus tau diri kalau kita juga banyak kesalahan dannnnn dunia gak seindah itu sahabat. Sesuai keingannmu, oh tidak bisa.

3. Setiap Hal Ada Pembelajarannya
            Hal yang kadang May selalu melupakan adalah sebuah pembelajaran dari kemalangan atau hal memalukan yang diperbuat orang lain. Biasanya, orang gak akan merasa apa yang dia perbuat itu gak baik sebelum diigatkan oleh orang lain. Bisa juga kita menyadari kesalahan itu dalam jangka waktu tertentu. Contoh sederhananya, hari ini kita foto, besok kita lihat hasilnya, akan timbul dua hal yang bisa jadi bagus, atau malah kita gak sadar pose kita itu gak banget buat dilihat orang lain, terus kita hapus deh. Sama, hal yang buat kita ilfeel juga bisa jadi gitu. Tugas kita mengingatkan dan juga ambil pelajarannya apabila menemukan situasi yang sama, atau kalau berasa berat kita bisa pilih salah satunya. Lalu berdoa, semoga waktu menyadarkannya. 

4. Ngomongin Orang Sama Musuhan Tuh Dosa, Rugi
            Bener=ghibah, salah=Fitnah. Terus masih mau dilakukan, meski nikmat si memang๐Ÿ˜„. Dosa memang nikmat. Seperti yang udah May buat poinnya, rasa ilfeel itu tanpa sadar membuat jarak dengan orang lain yang kita rasa 'Dia ng-ilfeel-in banget sih'. Itu buat rugi, sangat. Bisa jadi kamu butuh bantuannya suatu hari nanti. Dunia itu gak berputer sama diri kita aja, bisa jadi kita gak masuk di dalam porosnya.

May ngomongin tentang ilfeel gak hanya karena salah satu adik yang cerita tentang rasa itu, tetapi lebih ke self reminder buat May juga, atau kalian juga. Senangnya saling mengingatkan๐Ÿค—. Mungkin pemikiran May gak semuanya bener, tapi itu hasil dari May ngulik-ngulik ngasal dari orang-orang yang hobbynya adalah ilfeel. Gak juga hobby sih sebenarnya, tapi pernah๐Ÿ˜† Terakhir, hal yang harus selalu ditanemin buat siapapun termasuk diri May sendiri 

“Setiap orang punya kadar salahnya masing-masing, dan sifat, serta sikapnya sendiri-sendiri. Tugas kita mengingatkan, bukan untuk mengubahkan semau kita, apabila semua terasa sulit, diam. Iya, karena kita gak perna tahu, kata mana yang bisa buat hatinya rapuh. Doain ke pemilih hati, itu udah lebih dari cukup. Daripada ngomongin orang lain”.  


Musi Banyuasin, 28 Juli 2020
Celoteh My May 

Hati=Lisan

Hai !!! Udah lamaaaaaa banget, Aku nggak nulis di sini. Terasa berat memang, karena bebarengan dengan penulisan skripsi yang ngg...